Visum Berbeda, Kuasa Hukum Ragukan Polisi atas Penanganan Kasus Dugaan Pencabulan


Radarmalut.com – Hasil visum et repertum (VER) kepolisian di Rumah Sakit Bhayangkara Ternate terkait kasus dugaan pencabulan pelatih taekwondo RH (30) terhadap anak didiknya berinisal N (11) dianggap tidak valid, karena berbeda dengan visum yang dilakukan pihak korban.

Kuasa Hukum N, Zulfikran Bailussy mengatakan, pada tanggal 29 Juni saat membuat laporan di Polsek Ternate Selatan, pihak korban diarahkan ke RS Bhayangkara untuk melakukan visum, namun seminggu kemudian keluar dan isinya menyebutkan tidak ada tanda-tanda lecet di area alat vital.

“Korban dan orangtuanya melapor langsung diarahkan oleh penyidik untuk dilakukanya visum et repertum di Rumah Sakit Bhayangkara Ternate dan hasilnya aman atau tidak ada tanda robekan dan lecet di selaput darah vagina,” katanya, Senin (8/7/2024).

Zulfikran menjelaskan, ketika mengetahui bahwa hasil visum tidak sesuai dengan keterangan korban, maka dibuatkan visum tandingan di Rumah Sakit Prima Ternate dan mengejutkan ternyata hasilnya berbeda dengan visum sebelumnya.

“Apakah kasus ini pencabulan saja ataukah mengarah persetubuhan anak. Kami telah menunggu hingga satu minggu baru visum itu diantarkan ke Polsek untuk gelar perkara menuju ke penyidikan tapi kami ragukan hasil visum, sehingga melakukan visum tandingan dan hasilnya berbeda,” ungkapnya.

“Kami terima hasil RS Prima Ternate tanggal 6 Juli 2024, pukul 13.00 WIT. Ada lecet dibagian dalam vagina dan kemerahan di kulit depan maka dugaanya ada yang dipaksakan masuk, keterangan dokter sesuai dengan keterangan korban ketika di hotel melihat celananya sudah basah,” tambahnya.

Menurutnya, hasil visum juga menentukan hukuman kepada terduga pelaku pencabulan, sehingga pihaknya berharap Polsek serius menangani laporan tersebut. “Kami menunggu proses dari penyelidikan ke penyidikan kan harus ada alat bukti salah satunya visum untuk menjadi dasar penerapan pasal untuk pelaku,” paparnya.

Sebelumnya, dugaan kasus pencabulan pelatih taekwondo terhadap muridnya yang di bawah umur itu bukan hanya sekali dan dilakukan di tempat yang berbeda-beda. Orangtuanya menaruh curiga karena selalu pulang di atas pukul 22.00 WIT, kasus ini terbongkar ketika N menceritakan kepada keluarga.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *